SURGA KECIL DI TIMUR INDONESIA
PAPUA
Papua negeri yang elok di timur indonesia, papua di tinggali banyak
suku, dan setiap suku di papua mempunyai adat istiadat yang berbeda.
kebudayaan papua masih kebudayaan murni karena dalam kesehariannya masih menggunakan peralatan dari batu dan masih bercocok tanam secara tradisional dan berpindah pindah.
selain adat istiadat tarian papua pun banyak ragam dan macamnya semuanya mencerminkan suku yang ada di papua, umumnya tarian papua sangat dinamis dan mencerminkan kegembiraan.
pakain adatnya pun sangat eksotis dengan hiasan di kepala yang mencerminkan budaya papua.
bukan hanya budayanya papua juga menyimpan wisata yang luar biasa dari salju abadinya di pegunungan jaya wijaya sampai pantai pantainya yang indah dan masih asli dan alami. jadi kalau ke indonesia jangan lupa berkunjung juga ke papua tanah yang elak bagaikan surga , tanah yang terberkati.
berikut beberapa foto buday papaua dan ke indahan papua :
kebudayaan papua masih kebudayaan murni karena dalam kesehariannya masih menggunakan peralatan dari batu dan masih bercocok tanam secara tradisional dan berpindah pindah.
selain adat istiadat tarian papua pun banyak ragam dan macamnya semuanya mencerminkan suku yang ada di papua, umumnya tarian papua sangat dinamis dan mencerminkan kegembiraan.
pakain adatnya pun sangat eksotis dengan hiasan di kepala yang mencerminkan budaya papua.
bukan hanya budayanya papua juga menyimpan wisata yang luar biasa dari salju abadinya di pegunungan jaya wijaya sampai pantai pantainya yang indah dan masih asli dan alami. jadi kalau ke indonesia jangan lupa berkunjung juga ke papua tanah yang elak bagaikan surga , tanah yang terberkati.
berikut beberapa foto buday papaua dan ke indahan papua :
Jenis - Jenis Tarian adat Papua
Tari Kreasi Balada Cenderawasih
Balada
burung cenderawasih yang mana dikisahkan oleh Drs. Jhon Modouw tentang
kepunahan burung cenderawasih lalu digarap menjadi sebuah tari yang
disebut tari balada cenderawasih. namun sayang kurang adanya tanggapan
dari pemerintah dan dinas terkait untuk bisa memahami niat baik dari
para seniman dan budayawan yang turut prihatin akan habitat burung
cenderawasih yang semakin lama semakin punah…. kita tahu dari sekian
banyaknya jenis cenderawasih cuma saat ini hanya beberapa saja yang
tersisa. untuk itu para seniman membuat cerita kisah hidup dari burung
cenderawasih dalam bentuk tari dan cerita agar kita semua dapat
menyadari bahwa sebuh titipan yang terindah dari yang Kuasa mulai hilang
dari bumi papua…… tapi sekarang saya mau ajak kitorang semua pecinta
seni dan budaya… mari sama-sama berkarya dalam kontes memelihara dan
menjaga habitat ini dalam lagu dan tari….
YOSPAN = YOSIM PANCAR
Yosim
Pancar atau biasa disingkat Yospan adalah tari pergaulan/persahabatan
para muda-mudi. Yospan merupakan penggabungan dari dua tarian rakyat di
Papua, yaitu Yosim dan Pancar.
Yosim adalah suatu tarian tua mirip poloneis dari dansa Barat dan berasal dari Sarmi, suatu kabupaten di pesisir utara Papua, dekat Sungai Mamberamo, namun ada juga yang mengatakan bahwa Yosim berasal dari wilayah teluk Saireri (Serui, Waropen). Sedangkan Pancar adalah suatu tarian yang berkembang di Biak Numfor dan Manokwari awal 1960-an semasa zaman Belanda di Papua, meniru pada awal sejarah kelahirannya, gerakan-gerakan “akrobatik” di udara - seperti gerakan jatuh jungkir-balik dari langit, mirip daun kering yang jatuh tertiup angin - dari pesawat tempur jet Neptune buatan Amerika Serikat yang dipakai Angkatan Udara Belanda di Irian Barat. Awal 1960-an, konflik Belanda-Indonesia seputar status kedaulatan atas Irian Barat masih berlangsung. Karena pesawat tempur ini digerakkan oleh pancaran gas (jet), maka tarian yang meniru gerakan akrobatiknya mula-mula disebut Pancar Gas, kemudian disingkat menjadi Pancar. Sejak kelahirannya awal 1960-an, Pancar sudah memperkaya gerakannya dari sumber-sumber lain, termasuk dari alam.
Tari Yosim Pancar memiliki dua regu pemain yaitu Regu Musisi dan Penari. Penari Yospan lebih dari satu orang dengan gerakan dasar yang penuh semangat, dinamik dan menarik. Beberapa jenis gerakannya yang terkenal seperti Pancar gas, Gale-gale, Jef, Pacul Tiga, Seka dan lain-lain.
Keunikan dari tarian ini adalah pakaian, aksesoris, dan alat musiknya. Warna dan jenis pakaian yang digunakan masing-masing Grup Seni tari/sanggar seni Yospan berbeda-beda, namun ciri khas Papua untuk aksesoris hampir sama. Alat-alat musik yang dipakai untuk mengiringi tarian Yospan seperti Gitar, Ukulele (Juk), Tifa dan Bass Akustik (stem bass). Ukulele, Tifa dan Stem Bass biasanya dibuat sendiri. Seorang yang sudah mahir bermain Stem Bass terkadang dapat bermain bukan lagi menggunakan jari atau telapak tangan untuk menekan not tapi menggunakan telapak kaki pada senar nilon. Irama dan lagu Tari Yospan secara khusus sangat membangkitkan kekuatan untuk tarian.
Yospan cukup populer dan sering diperagakan pada setiap event, acara adat, kegiatan penyambutan dan festival seni budaya. Yospan juga biasa ditampilkan di Manca Negara untuk memenuhi undangan atau mengikuti Festival disana.
Hampir setiap kampung di Papua memiliki grup seni tari yang terus dikembangkan.
Yosim adalah suatu tarian tua mirip poloneis dari dansa Barat dan berasal dari Sarmi, suatu kabupaten di pesisir utara Papua, dekat Sungai Mamberamo, namun ada juga yang mengatakan bahwa Yosim berasal dari wilayah teluk Saireri (Serui, Waropen). Sedangkan Pancar adalah suatu tarian yang berkembang di Biak Numfor dan Manokwari awal 1960-an semasa zaman Belanda di Papua, meniru pada awal sejarah kelahirannya, gerakan-gerakan “akrobatik” di udara - seperti gerakan jatuh jungkir-balik dari langit, mirip daun kering yang jatuh tertiup angin - dari pesawat tempur jet Neptune buatan Amerika Serikat yang dipakai Angkatan Udara Belanda di Irian Barat. Awal 1960-an, konflik Belanda-Indonesia seputar status kedaulatan atas Irian Barat masih berlangsung. Karena pesawat tempur ini digerakkan oleh pancaran gas (jet), maka tarian yang meniru gerakan akrobatiknya mula-mula disebut Pancar Gas, kemudian disingkat menjadi Pancar. Sejak kelahirannya awal 1960-an, Pancar sudah memperkaya gerakannya dari sumber-sumber lain, termasuk dari alam.
Tari Yosim Pancar memiliki dua regu pemain yaitu Regu Musisi dan Penari. Penari Yospan lebih dari satu orang dengan gerakan dasar yang penuh semangat, dinamik dan menarik. Beberapa jenis gerakannya yang terkenal seperti Pancar gas, Gale-gale, Jef, Pacul Tiga, Seka dan lain-lain.
Keunikan dari tarian ini adalah pakaian, aksesoris, dan alat musiknya. Warna dan jenis pakaian yang digunakan masing-masing Grup Seni tari/sanggar seni Yospan berbeda-beda, namun ciri khas Papua untuk aksesoris hampir sama. Alat-alat musik yang dipakai untuk mengiringi tarian Yospan seperti Gitar, Ukulele (Juk), Tifa dan Bass Akustik (stem bass). Ukulele, Tifa dan Stem Bass biasanya dibuat sendiri. Seorang yang sudah mahir bermain Stem Bass terkadang dapat bermain bukan lagi menggunakan jari atau telapak tangan untuk menekan not tapi menggunakan telapak kaki pada senar nilon. Irama dan lagu Tari Yospan secara khusus sangat membangkitkan kekuatan untuk tarian.
Yospan cukup populer dan sering diperagakan pada setiap event, acara adat, kegiatan penyambutan dan festival seni budaya. Yospan juga biasa ditampilkan di Manca Negara untuk memenuhi undangan atau mengikuti Festival disana.
Hampir setiap kampung di Papua memiliki grup seni tari yang terus dikembangkan.
![]() | |
| Para Penari dan Musisi Tarian Yosim Pancar |
Festival Danau Sentani Pesta Budaya Masyarakat Papua
![]() |
| Tarian adat di atas perahu dalam Festival Danau Sentani |
Festival Danau Sentani adalah festival pariwisata tahunan yang diadakan di sekitar Danau Sentani. Festival ini diselenggarakan sejak 2007 dan telah menjadi festival tahunan dan masuk dalam kalendar pariwisata utama. FDS ini banyak diikuti oleh turis Belanda maupun turis lokal. Festival Danau Sentani diadakan pada pertengahan bulan Juni tiap tahunnya selama lima hari berturut. Festival ini diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, dan sajian berbagai kuliner khas Papua.
Karnaval Festival Danau Sentani diikuti seluruh paguyuban di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Dari masing-masing paguyuban baik dari luar Papua maupun di Papua sendiri yang turut serta dalam pagelaran tersebut menampilkan budaya tradisional, tari-tarian tradisional yang diiringi lagu daerah.
Festival ini adalah bukti pemeliharaan persatuan dan kesatuan diantara sesama suku, ras, agama. Nasionalime yang sangat kental terjalin diantara sesama, mengingat di Papua terdiri dari ratusan suku-suku kecil yang terkadang gampang bentrok.
Tiga agenda pokok FDS, selain karnaval nusantara diantaranya adalah pagelaran budaya, pameran barang seni papua, dan tour wisata.
Kebudayaan di Papua
1. Budaya Tari-Tarian
Masyarakat
pantai memiliki berbagai macam budaya tari-tarian yang biasa mereka
sebut dengan Yosim Pancar (YOSPAN), yang didalamnya terdapat berbagai
macam bentuk gerak seperti: (tari Gale-gale, tari Balada, tari
Cendrawasih, tari Pacul Tiga, tari Seka, Tari Sajojo). Tarian yang biasa
dibawakan oleh masyarakat pantai maupun masyarakat pegunungan pada
intinya dimainkan atau diperankan dalam berbagai kesmpatan yang sama
seperti: dalam penyambutan tamu terhormat, dalam penyambutan para turis
asing dan yang paling sering dimainkan adalah dalam upacara adat.
khususnya tarian panah biasanya dimainkan atau dibawakan oleh masyarakat
pegunungan dalam acara pesta bakar batu atau yang biasa disebut dengan
barapen oleh masyarakat pantai. tarian ini dibawakan oleh para pemuda
yang gagah perkasa dan berani.
dengan
budaya tarian Yospan maupun budaya tarian Panah yang unik, kaya dan
indah tersebut para orangtua sejak dahulu berharap budaya yang telah
mereka wariskan kepada generasi berikut tidak luntur, tidak tenggelam
dan tidak terkubur oleh berbagai perkembangan zaman yang kian hari kian
bertambah maju. para pendahulu yaitu para orangtua berharap juga budaya
tarian-tarian yang telah mereka ciptakan dengan berbagai gelombang
kesulitan, kesusahan dan keresahan tidak secepat dilupakan oleh generasi
berikutnya. mereka juga berharap dengan tidak adanya budaya Papua yang
kaya tersebut semakin maju, semakin dikenal baik oleh orang dikalangan
dalam negeri sendiri maupun dikenal dikalangan luar negeri dan juga
semakin berkembang kearah yang lebih baik yang intinya dapat tetap
mengangkat derajat, martabat, dan harkat orang Papua.
2. Budaya Perkawinan
Perkawinan
merupakan kebutuhan yang paling mendesak bagi semua orang. dengan
demikian masyarakat Papua baik yang di daerah pantai maupun daerah
pegunungan menetapkan peraturan itu dalam peraturan adat yang intinya
agar masyarakat tidak melanggar dan tidak terjadi berbagai keributan
yang tidak diinginkan. dalam pertukaran perkawinan yang di tetapkan
orangtua dari pihak laki-laki berhak membayar mas kawin seebagai tanda
pembelian terhadap perempuan atau wanita tersebut. adapun untuk
masyarakat pantai berbagai macam mas kawin yang harus dibayar seperti:
membayar piring gantung atau piring belah, gelang, kain timur (khusus
untuk orang di daerah Selatan Papua) dan masih banyak lagi. berbeda
dengan permintaan yang diminta oleh masyarakat pegunungan diantaranya
seperti: kulit bia (sejenis uang yang telah beredar di masyarakat
pegunugan sejak beberapa abad lalu), babi peliharaan, dan lain
sebagainya. dalam pembayaran mas kawin akan terjadi kata sepakat apabila
orangtua dari pihak laki-laki memenuhi seluruh permintaan yang diminta
oleh orangtua daripada pihak perempuan.
3. Alat Musik Tradisional
Tifa
Salah satu alat musik yang paling terkenal dari kawasan Indonesia Timur adalah Tifa. Secara khusus dapat dikatakan bahwa Tifa adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, bentuknya mirip gendang dan cara memainkannya adalah dengan dipukul.
3. Alat Musik Tradisional
Tifa
Salah satu alat musik yang paling terkenal dari kawasan Indonesia Timur adalah Tifa. Secara khusus dapat dikatakan bahwa Tifa adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, bentuknya mirip gendang dan cara memainkannya adalah dengan dipukul.
Bahannya
terbuat dari sebatang kayu yang isinya dikosongkan dan pada salah satu
sisi ujungnya ditutup menggunakan kulit rusa yang telah dikeringkan
agar dapat menghasilkan suara yang bagus dan indah. Biasanya Tifa
diperindah dengan berbagai model ukiran sesuai dengan ciri khas setiap
suku di maluku dan papua.
Kapan Tifa dimainkan. Disamping sebagai pelengkap dari permainan istrumen musik tradisional, Tifa juga selalu dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. Tarian tersebut biasanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya.
Kapan Tifa dimainkan. Disamping sebagai pelengkap dari permainan istrumen musik tradisional, Tifa juga selalu dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. Tarian tersebut biasanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya.
4. Pakaian Adat
Pakaian adat pria dan
wanita di Papua secara fisik mungkin anda akan berkesimpulan bahwa
pakaian tersebut hampir sama bentuknya. Mereka memakai baju dan penutup
badan bagian bawah dengan model yang sama. Mereka juga sama-sama
memakai hiasan-hiasan yang sama, seperti hiasan kepala berupa burung
cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta
rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. Bentuk pakaian yang terlukis di
sini merupakan ciptaan baru. Biasannya tak lupa dengan tombak/panah dan
perisai yang dipegang mempelai laki-laki menambah kesan adat Papua.
Mengenal Budaya Papua
Keadaan Sosial Budaya
Sudah
sejak lama ujung barat laut Irian dan seluruh pantai utara penduduknya
dipengaruhi oleh penduduk dari kepulauan Maluku (Ambon, Ternate,
Tidore, Seram dan Key), maka adalah tidak mengherankan apabila
suku-suku bangsa disepanjang pesisir pantai (Fak-Fak, Sorong, Manokwari
dan Teluk Cenderawasih) lebih pantas digolongkan sebagai Ras Melanesia
dari pada Ras Papua. Zending atau misi kristen protestan dari Jerman
(Ottow & Geissler) tiba di pulau Mansinam Manokwari 5 Februari 1855
untuk selanjutnya menyebarkan ajaran agama disepanjang pesisir pantai
utara Irian. Pada tanggal 5 Februari 1935, tercatat lebih dari 50.000
orang menganut agama kristen protestan. Kemudian pada tahun 1898
pemerintah Hindia Belanda membuka Pos Pemerintahan pertama di Fak-Fak
dan Manokwari dan dilanjutkan dengan membuka pos pemerintah di Merauke
pada tahun 1902. Dari Merauke aktivitas keagamaan misi katholik dimulai
dan pada umumnya disepanjang pantai selatan Irian. Pada tahun 1933
tercatat sebanyak 7.100 orang pemeluk agama katholik. Pendidikan dasar
sebagian besar diselenggarakan oleh kedua misi keagamaan tersebut,
dimana guru sekolah dan guru agama umumnya berasal dari Indonesia Timur
(Ambon, Ternate, Tidore, Seram, Key, Manado, Sanger-Talaud, dan
Timor), dimana pelajaran diberikan dalam bahasa Melayu. Pembagian kedua
kelompok agama tersebut kelihatannya identik dengan keadaan di Negeri
Belanda dimana Kristen Protestan di Utara dan Kristen Katholik di
Selatan.
Pendidikan
mendapat jatah yang cukup besar dalam anggaran pemerintah Belanda,
pada tahun-tahun terakhir masa penjajahan, anggaran pendidikan ini
mencapai 11% dari seluruh pengeluaran tahun 1961. Akan tetapi
pendidikan tidak disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja disektor
perekonomian modern, dan yang lebih diutamakan adalah nilai-nilai
Belanda dan agama Kristen. Pada akhir tahun 1961 rencana pendidikan
diarahkan kepada usaha peningkatan keterampilan, tetapi lebih
diutamakan pendidikan untuk kemajuan rohani dan kemasyarakatan.
Walaupun bahasa "Melayu" dijadikan sebagai bahasa "Franca" (Lingua
Franca), bahasa Belanda tetap diajarkan sebagai bahasa wajib mulai dari
sekolah dasar, bahasa-bahasa Inggris, Jerman dan Perancis merupakan
bahasa kedua yang mulai diajarkan di sekolah lanjutan.
Pada
tahun 1950-an pendidikan dasar terus dilakukan oleh kedua misi
keagamaan tersebut. Tercatat bahwa pada tahun 1961 terdapat 496 sekolah
misi tanpa subsidi dengan kurang lebih 20.000 murid. Sekolah Dasar yang
bersubsidi sebanyak 776 dengan jumlah murid pada tahun 1961 sebanyak
kurang lebih 45.000 murid, dan seluruhnya ditangani oleh misi, dan
pelajaran agama merupakan mata pelajaran wajib dalam hal ini. Pada tahun
1961 tercatat 1.000 murid belajar di sekolah menengah pertama, 95
orang Irian Belajar diluar negeri yaitu Belanda, Port Moresby, dan
Australia dimana ada yang masuk Perguruan Tinggi serta ada yang masuk
Sekolah Pertanian maupun Sekolah Perawat Kesehatan (misalnya pada
Nederland Nasional Institut for Tropica Agriculture dan Papua Medical
College di Port Moresby).
Walaupun
Belanda harus mengeluarkan anggaran yang besar untuk menbangun Irian
Barat, namun hubungan antara kota dan desa atau kampung tetap terbatas.
Hubungan laut dan luar negeri dilakukan oleh perusahaan Koninklijk
Paketvaart Maatschappij (KPM) yang menghubungkan kota-kota Hollandia,
Biak, Manokwari, Sorong, Fak-Fak, dan Merauke, Singapura, Negeri
Belanda. Selain itu ada kapal-kapal kecil milik pemerintah untuk
keperluan tugas pemerintahan. Belanda juga membuka 17 kantor POS dan
telekomunikasi yang melayani antar kota. Terdapat sebuah telepon radio
yang dapat menghubungi Hollandia-Amsterdam melalui Biak, juga ditiap
kota terdapat telepon. Terdapat perusahaan penerbangan Nederland Nieuw
Guinea Luchvaart Maatschappij (NNGLM) yang menyelenggarakan
penerbangan-penerbangan secara teratur antara Hollandia, Biak,
Manokwari, Sorong, Merauke, dan Jayawijaya dengan pesawat DC-3, kemudian
disusul oleh perusahaan penerbangan Kroonduif dan Koniklijk Luchvaart
Maatschappij (KLM) untuk penerbangan luar negeri dari Biak. Sudah sejak
tahun 1950 lapangan terbang Biak menjadi lapangan Internasional.
Selain penerbangan tersebut, masih terdapat juga penerbangan yang
diselenggarakan oleh misi protestan yang bernama Mission Aviation
Fellowship (MAF) dan penerbangan yang diselenggarakan oleh misi
Katholik yang bernama Associated Mission Aviation (AMA) yang melayani
penerbangan ke pos-pos penginjilan di daerah pedalaman. Jalan-jalan
terdapat disekitar kota besar yaitu di Hollandia 140 Km, Biak 135 Km,
Manokwari 105 Km, Sorong 120 Km, Fak-Fak 5 Km, dan Merauke 70 Km.
Mengenai
kebudayaan penduduk atau kultur masyarakat di Irian Barat dapat
dikatakan beraneka ragam, beberapa suku mempunyai kebudayaan yang cukup
tinggi dan mengagumkan yaitu suku-suku di Pantai Selatan Irian yang
kini lebih dikenal dengan suku "ASMAT" kelompok suku ini terkenal
karena memiliki kehebatan dari segi ukir dan tari. Budaya penduduk
Irian yang beraneka ragam itu dapat ditandai oleh jumlah bahasa lokal
khususnya di Irian Barat. Berdasarkan hasil penelitian dari
suami-isteri Barr dari Summer Institute of Linguistics (SIL) pada tahun
1978 ada 224 bahasa lokal di Irian Barat, dimana jumlah itu akan terus
meningkat mengingat penelitian ini masih terus dilakukan. Bahasa di
Irian Barat digolongkan kedalam kelompok bahasa Melanesia dan
diklasifikasikan dalam 31 kelompok bahasa yaitu:
Tobati,
Kuime, Sewan, Kauwerawet, Pauwi, Ambai, Turu, Wondama, Roon, Hatam,
Arfak, Karon, Kapaur, Waoisiran, Mimika, Kapauku, Moni, Ingkipulu,
Pesechem, Teliformin, Awin, Mandobo, Auyu, Sohur, Boazi, Klader,
Komoron, Jap, Marind-Anim, Jenan, dan Serki. Jumlah pemakai bahasa
tersebut diatas sangat bervariasi mulai dari puluhan orang sampai
puluhan ribu orang.
Secara
tradisional, tipe pemukiman masyarakat Irian Barat dapat dibagi
kedalam 4 kelompok dimana setiap tipe mempunyai corak kehidupan sosial
ekonomi dan budaya tersendiri.
Penduduk pesisir pantai;
Penduduk
ini mata pencaharian utama sebagai Nelayan disamping berkebun dan
meramu sagu yang disesuaikan dengan lingkungan pemukiman itu. Komunikasi
dengan kota dan masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka.
Penduduk pedalaman yang mendiami dataran rendah;
Mereka
termasuk peramu sagu, berkebun, menangkap ikan disungai, berburu
dihuta disekeliling lingkungannya. Mereka senang mengembara dalam
kelompok kecil. Mereka ada yang mendiami tanah kering dan ada yang
mendiami rawa dan payau serta sepanjang aliran sungai. Adat Istiadat
mereka ketat dan selalu mencurigai pendatang baru.
Penduduk pegunungan yang mendiami lembah;
Mereka
bercocok tanam, dan memelihara babi sebagai ternak utama, kadang kala
mereka berburu dan memetik hasil dari hutan. Pola pemukimannya tetap
secara berkelompok, dengan penampilan yang ramah bila dibandingkan
dengan penduduk tipe kedua (2). Adat istiadat dijalankan secara ketat
dengan "Pesta Babi" sebagai simbolnya. Ketat dalam memegang dan menepati
janji. Pembalasan dendam merupakan suatu tindakan heroisme dalam
mencari keseimbangan sosial melalui "Perang Suku" yang dapat diibaratkan
sebagai pertandingan atau kompetisi. Sifat curiga tehadap orang asing
ada tetapi tidak seketat penduduk tipe 2 (kedua).
Penduduk pegunungan yang mendiami lereng-lereng gunung;
Melihat
kepada tempat pemukimannya yang tetap di lereng-lereng gunung, memberi
kesan bahwa mereka ini menempati tempat yang strategis terhadap
jangkauan musuh dimana sedini mungkin selalu mendeteksi setiap makhluk
hidup yang mendekati pemukimannya. Adat istiadat mereka sangat ketat,
sebagian masih "KANIBAL" hingga kini, dan bunuh diri merupakan tindakan
terpuji bila melanggar adat karena akan menghindarkan bencana dari
seluruh kelompok masyarakatnya. Perang suku merupakan aktivitas untuk
pencari keseimbangan sosial, dan curiga pada orang asing cukup tinggi
juga.
Dalam
berbagai kebudayaan dari penduduk Irian ada suatu gerakan kebatinan
yang dengan suatu istilah populer sering disebut cargo cults. Ada suatu
peristiwa gerakan cargo yang paling tua di Irian Jaya pada tahun 1861
dan terjadi di Biak yang bernama "KORERI". Peristiwa atau gerakan cargo
terakhir itu pada tahun 1959 sampai tahun 1962 di Gakokebo-Enarotali
(kabupaten Paniai) yang disebut " WERE/WEGE" sebagaimana telah
dikemukakan bahwa gerakan ini yang semula bermotif politik.
Pada
waktu Belanda meniggalkan Irian Barat, posisi-posisi baik dibidang
pemerintahan, pembangunan (dinas-jawatan) baik sebagai pimpinan maupun
pimpinan menengah diserahterimakan kepada putra daerah (orang
Papua/Irian Barat) sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Juga
seluruh rumah dan harta termasuk gedung dan tanah milik orang Belanda
itu diserahkan kepada kenalan mereka orang Papua (pembantu dan teman
sekerja) untuk dimiliki, karena mereka tidak bisa menjualnya dan juga
tidak ada pembeli pada masa itu.
Belanda
juga meninggalkan ekses konflik antara suku-suku besar sebagai akibat
dari aktivitas politik yaitu pertentangan antara "Elite Pro-Papua" dan
"Elite Pro-Indonesia" yang ditandai dengan pertentangan antara "Suku
Biak lawan Suku Serui, Suku tanah Merah-Jayapura lawan Suku Serui",
sekalipun dalam hal ini tidak semua orang Biak itu pro-Papua, tidak
semua orang Serui itu pro-Indonesia dan tidak semua orang Tanah
Merah-Jayapura itu pro-Papua dan pro-Indonesia.
Berdasarkan
pengalaman Belanda di Indonesia atau Hindia-Belanda dalam kemerdekaan
tahun 1945, maka Belanda didalam menjajah Irian Barat sangat hati-hati
sekali dalam meningkatkan kehidupan Masyarakat di berbagai bidang, dan
Belanda sengaja memperlambat perkembangan di Irian Barat/Nieuw Guinea
sesuai dengan permintahaan dan kebutuhan orang-orang Irian Barat.
Katakanlah bahwa ini suatu bentuk "Etis-Politik Gaya Baru". Termasuk
didalamnya usaha untuk membentuk "Nasionalisme Papua". Cara Belanda yang
demikian itu menyebabkan orang-orang Irian Jaya tidak merasa bahwa
mereka sedang dijajah sebab mereka hidup dalam suatu keadaan
perekonomian yang baik dan tidak merasakan adanya penderitaan dan
tekanan dari Belanda.
Papua
Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: navigasi, gelintar
Papua
ialah sebuah daerah daftar kata indonesia ialah (Provinsi) di Indonesia
yang terletak di bahagian barat kepulauan New Guinea dan pulau-pulau di
sekitarnya.
Papua
kadangkala dipanggil sebagai Papua Barat kerana Papua boleh dirujuk
kepada seluruh kepulauan New Guinea atau bahagian selatan negara
jirannya, Papua New Guinea. Papua Barat ialah sebutan yang lebih disukai
oleh para nasionalis yang ingin memisahkan Papua daripada Indonesia
dan membentuk negara sendiri. Daerah (Provinsi) ini dahulu dikenali
dengan panggilan Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973, namanya
kemudian ditukarkan menjadi Irian Jaya oleh Suharto, nama yang tetap
digunakan secara rasmi hingga tahun 2002. Nama daerah (provinsi) ini
diganti menjadi Papua sesuai dengan UU No 21/2001 Autonomi Khusus Papua.
Pada masa era penjajahannya, wilayah ini disebut New Guinea Belanda
(Dutch New Guinea).
Papua
merupakan daerah (provinsi) yang terletak di wilayah paling timur
negara Republik Indonesia dan merupakan daerah yang penuh harapan.
Daerahnya belum banyak diterokai oleh aktiviti manusia dan Papua kaya
dengan sumber alam yang menjanjikan peluang untuk berniaga dan
berkembang. Tanahnya yang luas dipenuhi oleh hutan, laut dan pelbagai
biotanya dan berjuta-juta tanahnya yang sesuai untuk pertanian. Dalam
perut buminya juga menyimpan gas asli, minyak dan pelbagai bahan galian
yang hanya menunggu untuk diterokai.
Senarai kandungan
1 Pemerintahan
2 Geografi
3 Iklim
4 Topografi
5 Sosial Budaya
6 Bahasa
7 Agama
8 Gunung di Papua Timur
Pemerintahan
daerah
(Provinsi) Papua beribu kota di Jayapura dan secara pentadbirannya
terdiri daripada : 9 Pemerintahan Kabupaten iaitu Kabupaten Jayapura,
Jayawijaya, Merauke, Fak-Fak, Sorong, Manokwari, Biak Numfor, Yapen
Waropen dan Nabire. Dua Pemerintahan Kota iaitu Kota Jayapura dan Kota
Sorong, tiga Pemerintahan Kabupaten Administratif iaitu Puncak Jaya,
Paniai dan Mimika. Jumlah Kecamatan di Papua adalah 173 kecamatan yang
mencakupi 2.712 desa dan 91 kelurahan.
Geografi
Papua
terletak pada kedudukan 0° 19' - 10° 45' LS dan 130° 45' - 141° 48'
BT, menempati sesetengah bahagian barat dari Papua New Guinea yang
merupakan pulau terbesar kedua selepas Greenland. Secara fizikal, Papua
merupakan daerah (provinsi) terbesar di Indonesia, dengan luas daratan
21,9% dari jumlah kesuluruhan tanah seluruh Indonesia iaitu 421,981
km², membujur dari barat ke timur (Sorong - Jayapura) sepanjang 1,200
km (744 batu) dan dari utara ke selatan (Jayapura- Merauke) sepanjang
736 km (456 batu). Selain daripada tanah yang luas, Papua juga memiliki
banyak pulau sepanjang pesisirannya. Di pesisiran utara terdapat Pulau
Biak, Numfor, Yapen dan Mapia. Pada bahagian barat ialah Pulau
Salawati, Batanta, Gag, Waigeo dan Yefman. Pada pesisiran Selatan
terdapat pula Pulau Kalepon, Komoran, Adi, Dolak dan Panjang, sedangkan
di bahagian timur bersempadan dengan Papua New Guinea.
Iklim
Papua
terletak tepat di sebelah selatan garis khatulistiwa, namun kerana
daerahnya yang bergunung-gunung maka iklim di Papua sangat bervariasi
melebihi daerah Indonesia lainnya. Di daerah pesisiran barat dan utara
beriklim tropika lembap dengan tadahan hujan rata-rata berjumlah
diantara 1.500 - 7.500 mm pertahun. Tadahan hujan tertinggi terjadi di
pesisir pantai utara dan di pegunungan tengah, sedangkan tadahan hujan
terendah terjadi di pesisir pantai selatan. Suhu udara bervariasi
sejajar dengan bertambahnya ketinggian. Untuk setiap kenaikan
ketinggian 100 m ( 900 kaki ), secara rata-rata suhu akan menurun
0.6°C.
Topografi
Keadaan
topografi Papua bervariasi mulai dari dataran rendah berawa sampai
dataran tinggi yang dipenuhi dengan hutan hujan tropika, padang rumput
dan lembah. Pada bahagian tengah pula terdapat rangkaian pergunungan
tinggi sepanjang 650 km. Salah satu bahagian daripada pegunungan
tersebut adalah pergunungan Jayawijaya yang terkenal kerana di sana
terdapat tiga puncak tertinggi yang walaupun terletak dalam garisan
khatulistiwa namun selalu diselimuti oleh salji di puncak Jayawijaya
dengan ketinggian 5,030 m (15.090 kaki), puncak Trikora 5,160 m (15,480
kaki) dan puncak Yamin 5,100 m (15.300 kaki). Sungai-sungai besar
beserta anak sungainya mengalir ke arah selatan dan utara. Sungai Digul
yang bermula dari pedalaman kabupaten Merauke mengalir ke Laut
Arafura. Sungai Warenai, Wagona dan Mamberamo yang melewati Kabupaten
Jayawijaya, Paniai dan Jayapura bermuara di Samudera Pasifik.
Sungai-sungai tersebut mempunyai peranan penting bagi masyarakat
sepanjang alirannya baik sebagai sumber air bagi kehidupan harian,
sebagai nelayan mahupun sebagai sarana penghubung ke daerah luar.
Selain itu terdapat pula beberapa danau, diantaranya yang terkenal
adalah Danau Sentani di Jayapura, Danau Yamur, Danau Tigi dan Danau
Paniai di Kabupaten Nabire dan Paniai.
Sosial Budaya
Pada
daerah-daerah Papua yang bervariasi topografinya terdapat ratusan
kelompok etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling berbeza.
Dengan mengacu pada perbezaan topografi dan adat istiadatnya maka secara
amnya, penduduk Papua dapat di bezakan menjadi 3 kelompok besar iaitu:
Penduduk
daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah diatas tiang
(rumah panggung), mata pencaharian menokok sagu dan menangkap ikan.
Penduduk
daerah pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, danau dan lembah
serta kaki gunung. Pada umumnya bermata pencaharian menangkap ikan,
berburu dan mengumpulkan hasil hutan.
Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun beternak secara sederhana.
Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan yang menganut garis ayah atau patrilinea.
Bahasa
Di
Papua ini terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok
etnik yang ada. Aneka pelbagai bahasa ini telah menyebabkan kesulitan
dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik
lainnya. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia digunakan secara rasmi oleh
masyarakat-masyarakat di Papua bahkan hingga ke pedalaman.
Agama
Keagamaan
merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan
masyarakat di Papua dan dalam hal ketuhanan, Papua dapat dijadikan
contoh bagi daerah lain. Majoriti penduduk Papua beragama Kristian,
namun demikian, seiring dengan perkembangan kemudahan pengangkutan dari
dan ke Papua maka jumlah orang yang beragama lain termasuk Islam juga
semakin berkembang. Banyak mubaligh sama ada orang asing mahupun rakyat
Indonesia sendiri yang melakukan misi keagamaannya di
pedalaman-pedalaman Papua. Mereka berperanan penting dalam membantu
masyarakat sama ada melalui sekolah-sekolah mubaligh, bantuan perubatan
mahupun secara langsung mendidik masyarakat pedalaman dalam bidang
pertanian, mengajar Bahasa Indonesia dan pengetahuan-pengetahuan amali
yang lain - lainnya. Mubaligh juga merupakan pelopor dalam membuka
jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum dibina oleh
penerbangan biasa.
Gunung di Papua Timur
Piramid Carstensz
Puncak Jaya
Puncak Sumantri Brodjonegoro
Puncak Carstensz Timur
Puncak Trikora



























Tidak ada komentar:
Posting Komentar